Mudah Terdistraksi, Kenali Gejala Hingga Penyebab Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Sorotan24.com, Indonesia – Attention-Deficit Hyperactivity Disorder atau dikenal dengan sebutan ADHD merupakan sebuah kondisi gangguan pada mental seseorang yang ditandai dengan beberapa gejala yaitu perilaku impulsif dan hiperaktif. Gangguan mental ini biasa menyerang seseorang sejak usia dini atau anak-anak namun akan bertahan hingga remaja bahkan dewasa.

Gejala yang paling umum pada kondisi ini adalah membuat pengidapnya kesulitan memusatkan perhatian pada satu hal dalam satu waktu atau bisa dibilang sangat mudah untuk terdistraksi. Namun tak hanya itu, ada juga beberapa gejala umum lain yang biasa dialami oleh pengidap ADHD.

Lalu apa saja gejala tersebut? Dan apa saja yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi pada anak? Dilansir dari halodoc.com, simak penjelasan secara lengkapnya berikut ini.

Baca Juga : Natto Tidak Bau? Ini Dia 5 Fakta Natto, Kedelai Fermentasi Asal Jepang

Tipe Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Tipe Attention Deficit Hyperactivity Disorder
Sumber: freepik/ master1305

ADHD ini biasa menyerang anak-anak namun gejalanya sering kali timbul hingga usia remaja dan dewasa. ADHD ini dikelompokkan menjadi 3 subtipe yaitu dominan hiperaktif-impulsif, dominan inatentif, serta kombinasi antara hiperaktif-impulsif dan inatentif. Ketiga subtipe ADHD tersebut secara lengkap dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Dominan Hiperaktif-impulsif: Pada tipe ini biasanya, anak-anak pengidap ADHD akan memiliki masalah hiperaktivitas yang disertai oleh perilaku impulsive.
  • Dominan Inatentif: Untuk tipe kedua, pengidap ADHD biasanya akan kesulitan menaruh perhatian penuh pada suatu hal dalam satu waktu. Kondisi ini cenderung membuat anak tidak bisa memiliki fokus untuk memperhatikan sesuatu dengan baik.
  • Kombinasi Hiperaktif-impulsif dan Inatentif: Subtipe terakhir adalah kombinasi dari kedua subtipe sebelumnya.

Gejala Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Gejala Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Sumber: freepik/ nakaridore

Faktanya, gejala pada orang dewasa lebih sulit terdeteksi dibandingkan gejala ADHD pada anak-anak dan remaja. Namun biasanya, gejala ADHD pada orang dewasa pasti sudah terbentuk sejak anak-anak. Berikut beberapa gejala umum dari ADHD:

  • Tidak memperhatikan: Gejala ini membuat seseorang kesulitan memperhatikan sesuatu. Ketika gejala ini muncul, pengidap ADHD akan mudah terdistraksi, kesulitan mengikuti petunjuk, kesulitan menyelesaikan tugas-tugasnya, kehilangan fokus, menjadi pelupa, mengabaikan lawan bicara, serta menghindari tugas yang membutuhkan perhatian panjang.
  • Hiperaktif: Gejala kedua yaitu hiperaktif. Saat gejala ini muncul, pengidap ADHD akan tampak bersemangat, berbicara secara berlebihan, sulit menunggu giliran, sering menghentakkan tangan atau kaki, sulit untuk duduk dalam jangka waktu yang lama, selalu merasa gelisah atau tidak tenang, sulit bersantai, suka mengganggu orang lain, memanjat atau berlarian pada situasi yang tidak sesuai, serta memberi jawaban pada pertanyaan yang belum selesai ditanyakan.
  • Impulsif: Gejala ketiga ini biasa ditandai dengan pengidap ADHD akan melakukan suatu hal berisiko tanpa memikirkan konsekuensi akan tindakannya.

Penyebab Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Penyebab Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Sumber: freepik

Penyebab ADHD memang belum dapat dipastikan, namun gangguan ini diduga muncul karena neurotransmitter atau ketidakseimbangan senyawa kimia yang ada di dalam otak. Berikut ini merupakan beberapa faktor yang diduga sebagai pemicu munculnya kondisi ini:

  • Faktor genetik: ADHD dapat diturunkan sehingga risiko seseorang mengalami ADHD akan semakin tinggi jika terdapat anggota keluarga yang mengidap kondisi yang sama.
  • Faktor lingkungan: Terdapat dugaan bahwa ADHD ini berkaitan dengan adanya paparan timah dalam cat.
  • Kelahiran prematur: Kelahiran sebelum 37 minggu atau bayi yang lahir dengan berat badan rendah.
  • Ibu yang menggunakan obat terlarang, mengonsumsi alkohol hingga merokok selama masa kehamilan.
  • Kerusakan ataupun cedera pada otak selama masa kehamilan atau usia dini.
  • Neurotransmitter atau gangguan pada kinerja otak.

Itulah tipe, gejala hingga faktor penyebab terjadinya Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Meskipun ketika kalian membaca gejala-gejala di atas, kalian sadar bahwa kalian pernah melakukan beberapa hal tersebut, tetap konsultasikan kepada dokter atau ahlinya untuk mengetahui kondisi kesehatan mental kalian yang sebenarnya. Jangan pernah melakukan self-diagnose untuk menghindari penanganan yang salah sekaligus mencegah timbulnya kondisi yang semakin parah.

Stay healthy, jangan lupa juga untuk like dan share artikel ini ya! Pantau terus sorotan24 untuk info kesehatan menarik lainnya!

 

Follow Us
Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published.